Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Kasus Pasung Baru di NTT Masih Saja Terjadi

“Ia harus rutin minum obat. Harus. Di Puskesmas terdekat sudah ada obat. Nanti perlahan akan pulih.”

“Kalau di puskesmas tidak ada obat, infokan kepada relawan agar kita mencari alternatif sumber lain.”

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Begitu saya mendorong keluarga untuk rutinitas terapi medik.

Namun ketika mengunjungi pasien itu kemarin, kita menemukan bahwa sudah kurang lebih tiga hari ia tidak minum obat lantaran obat habis. Keluarga tidak lagi mengurus obatnya.

Kenapa? “Belum ada waktu,” kata keluarga. “Masih sibuk,” kata yang lain.

Tentu ada banyak telaah dan edukasi terkait jawaban-jawaban ini. Namun saya selalu fokus kepada satu hal bahwa apa yang kita sudah edukasikan kepada keluarga konsumen kesehatan jiwa tidak selalu 100 persen direalisasikan.

Ada-ada saja cerita-cerita hambatan bagi rutinitas terapi yang tentu keluarga juga tahu bahwa akibat dari tidak rutinnya terapi medik akan berpengaruh pada melambatnya proses pemulihan, dan dengan demikian juga membuat lamanya derita pada pasien dan keluarga itu.

Ya tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga tidak boleh memakai alasan apa pun untuk tidak mengurus rutinitas terapi medik anggotanya yang sakit jika ingin anggotanya itu lekas pulih dan jika ingin penderitaan sosial lekas selesai. Itu saja poinnya, tak tedeng ulang aling.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung