
Di kampung yang sama, tim menyapa seorang warga dengan gangguan psikososial yang duduk di depan rumah penuh sampah. Kepala Desa Wae Lokom, Martinus Sadi, menjelaskan bahwa warga tersebut telah menderita selama 25 tahun dan mendapat pengobatan dari Puskesmas Elar. Tim pun berbagi empati dan harapan dengan keluarga warga tersebut.
Perjalanan dilanjutkan ke Kampung Pora, Desa Lengko Namut. Di sana, seorang lansia penyandang disabilitas menerima kursi roda dengan senyum lebar. Ia mencoba kursi roda di ruang tamu, berbincang riang dengan tim. Sekali lagi, kopi pahit menjadi penyambut hangat. “Kursi roda ini memberi saya kebebasan baru,” ujarnya penuh syukur.
Aroma Kopi dan Harapan di Elar
Malam tiba, dan tim makan malam di rumah Om Libert di Kampung Mombok sebelum kembali ke Borong sekitar pukul 23.00 WITA. Di sepanjang perjalanan, aroma kopi yang sedang dipanen di kebun-kebun Elar mengiringi. Kampung Belang dan Pora dipenuhi tumpukan kopi yang dijemur, menciptakan suasana khas pedesaan yang subur dengan kakao, kemiri, cengkeh, dan vanili.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












