Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Jurnalis Harus Menghibur yang Berduka dan Mengingatkan yang Berkuasa

Dr. Rushworth Kidder dari Institute untuk Etika Global menjelaskan bahwa tidak ada etika jurnalisme yang terpisah dari etika kedokteran atau hukum. Wartawan seharusnya meliput dengan memperhatikan etika sosial yang ada dalam masyarakat. Mereka perlu bertanya, “Apakah ini benar?” Tapi wartawan harus meliput “melalui lensa etika” tentang apa yang terjadi dalam masyarakat. Wartawan harus menggunakan bahasa etika selain bahasa sehari-hari dalam politik dan ekonomi. Mengenai nilai-nilai etika mengungkapkan bahwa ada landasan bersama dalam etika, seperti cinta, kebenaran, kebebasan, kejujuran, kesetiakawanan, toleransi, tanggung jawab, dan kehidupan.

Baca Juga :  Merah Putih, Antara Simbol Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Nyata

Di dunia yang ideal, jurnalisme harus bebas dari motif apa pun selain memberikan informasi kepada publik. Jurnalisme tidak pernah boleh dipengaruhi oleh kepentingan politik atau ekonomi si wartawan atau organisasi media.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Dr. Ignas Kleden dalam buku Fragmen Sejarah Intelektual menyebut bahwa seseorang yang berani berpikir secara mandiri dan menggunakan akal budinya semakin dekat kepada pencerahan. Sebaliknya, mereka yang takut berpikir bebas akan terjebak dalam ketidakdewasaan.

Baca Juga :  Merah Putih, Antara Simbol Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Nyata

Jakob Oetama dalam buku Syukur Tiada Akhir menyebutkan bahwa jurnalisme harus menghibur yang berduka dan mengingatkan yang berkuasa. Jurnalisme yang tak lekang oleh waktu memerlukan karakter, integritas, dan kemampuan profesional yang dapat dipercaya. Banyak jurnalis di Indonesia menerapkan prinsip jurnalisme kasih dalam penulisan mereka, yang dapat dilihat dari gaya penulisan dan cara pemberitaan mereka.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung