Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Incumbent Bisa Tumbang?

Oleh: Aris Sasi, Petani tinggal di Desa Umatoos

Kedua, kita shooping ide dari seorang Michel Foucault. Kata Foucault, relasi kekuasaan itu tidak terlembaga, bukan monopoli kaum elit, atau relasi makro. Kekuasan itu justru efektif beroperasi dalam relasi mikro seperti relasi dalam keluarga, suami-istri, anak-orang tua, antar saudara dan antar tetangga. Dari sudut pandang ini, para petahana bisa saja dan akan tumbang karena mengandalkan taktik lama yang konvensional seperti dengan topangan fulus, kekuasaan partai, birokrasi dan oligarki. Hanya saja masyakarat kita sudah melek dan jenuh dengan permainan cantik dari pola taktik konvensional diatas. Misalkan saja, di depan mereka mengangguk sopan terhadap petahana tapi di ruang coblos pilihan justru jatuh pada calon lain/pendatang baru. Ada yang tentu bertanya: mengapa. Kenapa?

Dari ide Foucault soal kekuasaan yang beroperasi dalam relasi mikro, jawabannya sederhana karena konstituen lebih mudah dipengaruhi orang dekatnya daripada orang jauh apalagi yang pakai uang dan kekuasaan. Kekuasaan dalam relasi mikro politik itu simbolik, implisit, tidak kelihatan, tapi justru itu efektif. Seorang istri ikut pilihan suaminya karena yakin pilihan suami yang terbaik, meski disatu sisi sang istri tidak sadar sedang dikuasai preferensi suami. Seorang anak ikut orang tuanya karena yakin orang tua biasa benar, belum lagi kalau saja orang tuanya pernah sekolah. Seorang adik ikut kakaknya karena yakin kakaknya lebih tahu. Tetangga lebih mudah dipengaruhi tetangganya yang selama ini berbagi garam dan minyak goreng dengan dia daripada politisi yang datang dengan segepok uang. Karena itu, bisa saja kemenangan pendatang baru/calon lain karena bisa mengeksplorasi sekaligus mengeksploitasi rumah kosong yang tidak dipakai petahana. Calon lain datang layaknya keluarga konstituen, dengan karakter orang tidak punya apa-apa, tidak punya uang. Dan justru karakter inilah yang lebih dipercaya rakyat dan mengambil hati rakyat. Kita lanjut sebentar. Tapi senyum dan lemasin dulu. Biar jangan terlalu tegang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung