Saya merasa tertarik untuk menganalisa secara sederhana fenomena bisa tumbangnya para petahana ini dengan merujuk pada gagasan dari Niccolò Machiavelli dan Michel Foucault. Pertama, semua kita pasti sudah tahu bahwa dalam teori politik, Machiavelli dikenal sebagai leluhur teori politik postmodern karena gagasannya bahwa dalam politik, apapun boleh, anything goes. Politik itu seni karena membolehkan apapun. Jadi tidak ada takaran pasti untuk mengukur atau menentukan sesuatu baik, benar dan menang dalam sebuah sayembara politik. Politik itu tidak fondasional karena orang bisa pakai strategi apapun. Jika kita bawa perspektif berpikir ini pada dinamika Pilkada serentak di NTT khususnya di Malaka, seorang petahana bisa saja tumbang karena tak jarang para petahana berlebihan untuk mengandalkan kapital modal dan kapital relasi kekuasaan. Belum lagi ditambah dengan janji-janji manis sang petahana yang tidak bisa diwujudkan. Memori rakyat sangat kuat pada tiap janji dan bualan manis sang petahana, sehingga ucapan “jangan percaya pada petahana” (butar balek, butar ten) menjadi lumrah dimulut rakyat. Tak ketinggalam pula taktik untuk memenangkan pertarungan dengan “kampanye hitam”: menjelekkan dan menyerang pribadi paslon lain, dan tidak pernah berbicara mengenai ide, visi dan misinya sendiri. Yang penting bukan esensinya, tapi taktik-strategi untuk memenangkan pertarungan. Etika kadang hilang, absent dan tidak dipakai dalam laboratorium pemikiran ini. Sebab orientasi utama pada kekuasaan dengan tools-nya boleh apa saja.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












