Namun, harapan Avelinus untuk mendapatkan solusi justru berujung pahit. Ia justru dipanggil ke depan dan menjadi sasaran kemarahan Bupati. Hal ini dipicu oleh Avelinus yang kedapatan merokok bersama beberapa rekan guru lainnya saat sesi dialog berlangsung.
Meski mengakui perbuatannya dan menyatakan tidak ada niat untuk tidak menghormati, Avelinus harus menghadapi konsekuensi yang berat.
“Bapak bupati bukannya menjawab memberikan solusi, malah menangkap saya waktu itu karena saya merokok bersama teman-teman yang lain. Saya akui saya merokok, tapi tidak sengaja dan bukan bermaksud tidak menghargai,” jelas Avelinus.
Di hadapan ratusan kepala sekolah, Avelinus mengaku dihina habis-habisan. Ia menyebut ucapan Bupati sangat tidak layak bagi seorang pendidik dan manusia. “Beliau mengatakan etika saya bejat dan tidak pantas jadi Plt kepala sekolah, beliau juga menyebut saya pantas dicegat di jalan (skak) dan masih banyak lagi kata-kata hinaan yang saya terima,” kenangnya pahit.
Avelinus merasakan perlakuan tersebut seolah-olah dirinya adalah penjahat kelas kakap yang sedang diadili. “Saya dihina habis-habisan mulai dari tempat duduk hingga sampai di depan forum. Saya saat itu merasa seperti bukan manusia lagi,” imbuhnya, menggambarkan trauma yang mendalam.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












