Fakta di lapangan saat ini kebutuhan pangan masyarakat masih didatangkan dari luar Malaka, beras dipasaran didominasi beras Nona Kupang, Nona Sulawesi dan beras Mbak Jawa.
SN-KT mengawali kampanyenya dengan janji-janji mentereng tentang swasembada pangan, yang diperkirakan akan membawa perubahan besar bagi ketersediaan pangan di Malaka. Namun, janji tersebut, seiring berjalannya waktu, mulai terlihat sebagai sebuah retorika belaka.
Terdapat harapan besar dari masyarakat Malaka yang mendambakan kemajuan dalam sektor pangan, namun apa yang mereka terima hanyalah kekecewaan.
Banyak aspek yang menyebabkan gagalnya program swasembada pangan yang digagas oleh SN-KT. Salah satu alasan utama adalah kurangnya perencanaan yang matang. Tanpa rencana yang detail dan komprehensif, pelaksanaan program tentu saja menjadi tidak efektif.
Ditambah lagi, absennya sumber daya pendukung yang memadai membuat situasi semakin parah. Faktor-faktor ini, ketika dikombinasikan, menyebabkan program swasembada pangan tidak lebih dari sekedar janji manis di awal yang tidak pernah terwujud.
Dalam mewujudkan swasembada pangan, keberadaan sumber daya yang memadai menjadi kunci utama. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Ketersediaan sumber daya seperti modal, tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan akses terhadap teknologi yang canggih ternyata jauh dari kata memadai.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












