Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Wajah Caleg Terpilih dan Epifani Wajah ‘Yang Lain’

Litani problematika tersebut senantiasa terpancar pada bayang-bayang wajah para Caleg terpilih yang melek mata, dan peka hatinya. Sementara eksistensi wajah ‘yang lain’ tetaplah menggugah sekaligus menggugat hati para Caleg terpilih untuk mampu menunjukkan tanggung jawab etisnya dalam menyapa kehadiran wajah ‘yang lain’.

Emmanuel Levinas, seorang Filsuf Kontemporer asal Perancis menjelaskan tentang konsep wajah ‘yang lain’ ini bahwa wajah merupakan kehadiran orang lain sebagai ‘yang lain’ orang lain menurut keberlainannya. Penampakan (epifani) wajah bukanlah fenomena fisis-psikologis melainkan sebuah fenomena etis. Yang dimaksud dengan wajah ‘yang lain’ yaitu subjek yang termanifestasi dalam diri para yatim piatu, janda, fakir miskin atau kaum marginal. Kehadiran mereka adalah sebuah sapaan bagi para Caleg. Tidak perlu mereka berteriak minta tolong atas nasib pendiritaan hidup mereka yang berkepanjangan, tidak perlu mereka menguras tenaga, berjalan tertatih-tatih, memperjuangkan hak mereka sebagai warga negara. Akan tetapi sesungguhnya kehadiran mereka adalah sebuah sapaan.

Kehadiran mereka adalah sebuah bisikan bagi para Caleg untuk dapat menunjukan keberpihakan, dan kepekaan sosialnya dalam menuaikan kesejaterahan hidup sesama. Para Caleg terpilih, dengan beragam aura wajah yang sudah kita kenal, tentu mengenal baik siapakah sesungguhnya wajah ‘yang lain’ itu? Para Caleg terpilih tentu paham akan tugas, dan tanggung jawab moril mereka terhadap ‘yang lain’. Ingatan para Caleg terpilih pasti masih segar akan janji-janji politik yang disampaikan saat kampanye.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung