“Saya waktu itu Bapak Uskup ke apa, ke Kisol. Ee, lalu saya menulis ini, sebenarnya saya yang membawakan, tetapi akhirnya ee, bukan saya, teman saya, tapi saya yang menyusun,” ceritanya.
Pengalaman ini semakin memantapkan posisinya sebagai seorang yang peduli dan memiliki pengetahuan mendalam tentang budaya Manggarai.
Setelah menyelesaikan pendidikan di seminari, kecintaan Romo Ino terhadap budaya Manggarai terus berkembang. Ia melanjutkan studi di Eropa dan menerima dukungan dari para pastor serta misionaris untuk terus menggali dan melestarikan budaya daerahnya.
“Di Eropa ini ya bagus karena banyak pastor-pastor tua, misionaris selalu mendorong, ‘Kamu pulang, yang tulis teologi Eropa,’ itu mereka bilang,” tuturnya.
Sekembalinya ke Indonesia, Romo Ino aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan budaya. Ia menjadi pengajar mata kuliah budaya daerah dan inkulturasi, serta terlibat dalam pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) budaya dan pariwisata.
“Ini nanti mungkin sebentar lagi mau jadi sanggar, dia,” tambahnya, menggambarkan komitmennya untuk mengembangkan wadah bagi pelestarian budaya.
Romo Ino juga berbagi pengalamannya dalam berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting di bidang budaya, seperti Safe Dagun dan Pater Lorens.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












