Selain menjadi lahan pertanian yang menopang perekonomian warga, tempat-tempat tersebut juga memiliki sejarah terkait dengan peradaban budaya dan kehidupan warga Pocoleok hingga saat ini. Di lokasi-lokasi tersebut terdapat bekas Perkampungan, Pekuburan Leluhur, Mata Air, Altar Persembahan, Juga Rumah-Rumah Warga. Semuanya terikat dan terhubung dengan filosofi Lampek Lima, seperti Mbaru Kaeng (rumah), Natas Labar (halaman), Uma Duat (kebun), Wae Teku (mata air), dan Compang Takung (altar persembahan).
Aliansi Masyarakat Adat Pocoleok sangat antusias melaksanakan kegiatan bersama tersebut. Hal ini juga sebagai bentuk persatuan masyarakat adat pocoleok agar terus terjaga dan tidak terpecah belah oleh hasutan-hasutan yang juga terus beruapaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat dalam mempertahankan hak atas tanah serta berdaulat diatas tanahnya sendiri. Bagi masyarakat Pocoleok ada kebanggaan dan kegembiraan menjalani hidup sebagai petani di tanah sendiri. Dengan demikian, status sebagai petani dan warga adat kembali diperkuat.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












