Bupati Willy juga mengingatkan pentingnya penerapan pola pengadaan ternak yang bersifat bergulir. “Pemberian 25 ekor babi tidak boleh hanya sekadar dibagikan. Ke depan, harus ada sistem bergulir yang memastikan manfaatnya terus menyebar. Kita juga harus proaktif membuka lahan-lahan tidur agar masyarakat memiliki ruang untuk menanam jagung. Jika padi tidak memungkinkan, fokus kita harus beralih ke jagung. Dengan demikian, pemberdayaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” jelasnya.
Menyadari vitalnya komunikasi yang efektif, Bupati Willy menginstruksikan Pemerintah Desa dan Kecamatan untuk secara langsung melibatkan masyarakat dalam setiap perencanaan pembukaan lahan. Hal ini bertujuan bertujuan untuk memastikan setiap keputusan diambil secara kolektif dan mengakomodasi aspirasi masyarakat.
Desa Silawan memiliki potensi ekonomi yang signifikan, terutama dengan keberadaan pabrik pakan ternak yang mampu memproduksi hingga 5 ton per hari, atau setara dengan 1.250 ton per tahun. Potensi ini, menurut Bupati Willy, harus dioptimalkan melalui sinergi antar Desa.
“Idealnya, dua atau tiga desa dapat berkolaborasi untuk memastikan produksi jagung berlangsung secara berkesinambungan sepanjang tahun. Kita memerlukan stok jagung minimal 1.250 ton. Jika satu hektar lahan menghasilkan tiga ton jagung, maka kita membutuhkan sekitar 400 hektar lahan tanam. Desa Silawan sendiri diharapkan dapat menyiapkan setidaknya 200 hektar untuk penanaman jagung,” papar Bupati Willy.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












