“Tentu saja kami prioritaskan untuk menciptakan lapangan kerja bagi kami. Selama ini untuk komunitas kami ini kumpulan orang berintelektual semua tetapi notabenenya pengangguran,” ungkap Dominggus Bria Seran.
Menurut dia, selama kepemimpinan saat ini entah ada perekrutan tenaga kontrak daerah terhadap anak malaka, namun baginya tidak melihat dan mendengar karena cara perekrutannya secara diam-diam. Berbeda pada kepemimpinan bupati perdana Stefanus Bria Seran, di masa kepemimpinannya ia merekrut tenaga kontrak daerah sebanyak 3.300 anak Malaka.

“Komunitas ini 80 persen korban dari pemecatan oleh bupati yang sekarang (SNKT) pada tahun 2021 itu. Sehingga komunitas ini dibentuk karena dasarnya kecewa,” katanya.
“Saya dulu kerja di Dinas perikanan, saya kerja sejak tahun 2015-2021. Begitu bupati yang baru dilantik SK kami dibekukan sebanyak 3.300 orang. Mulai dari kami dibekukan kami tidak kerja di mana-mana” Tambahnya.
Sementara itu Anderias Seran Nahak, mengaku kecewa dengan tindakan Bupati Simon Nahak atas pembekuan 3.300 tenaga kontrak daerah pada 15 juni 2021 silam. Dia mengatakan, ketika kita mendapatkan pemimpin yang baru, seharusnya pemimpin itu mengayomi semua anak-anak Malaka karena 3.300 TEDA yang bekerja di Malaka adalah anak-anan Malaka sendiri. Seorang pemimpin itu harusnya punya hati dan punya moral yang bertanggung jawab terhadap putra-puntri Malaka.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












