“Tadi saya minta kepada Dinas PUPR untuk melakukan pemotretan udara menggunakan drone guna melihat kemungkinan memperpendek jalur tanggul. Jika bisa diperpendek, tentu akan mengurangi panjang pekerjaan sekaligus menekan biaya pembangunan,” ujarnya.
Bupati menegaskan bahwa pembangunan tanggul ini merupakan satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat di wilayah hilir Sungai Benenai dari ancaman banjir bandang.
“Tidak ada pilihan lain. Jika kita ingin masyarakat di daerah hilir terlindungi dari banjir bandang, maka tanggul ini harus dibangun secara bertahap dan berkelanjutan hingga selesai,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga meminta pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk menjaga tanggul yang telah dibangun agar tetap berfungsi dengan baik. Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan menanam bambu di sekitar tanggul sebagai penguat alami.
“Saya sudah minta kepada Kepala Desa Oanmane dan tokoh masyarakat untuk menanam bambu di sekitar tanggul, dan itu sudah mereka lakukan. Selain itu masyarakat juga diminta tidak membersihkan rumput di atas tanggul karena rumput menjadi pengikat tanah,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggali badan tanggul untuk membuat jalur melintas, karena dapat merusak struktur tanggul yang telah dibangun dengan biaya besar.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












