Dikatakan, pengalaman praktis Stef Bria Seran sebagai bekas pengurus federasi sepak bola provinsi menjadikan pandangannya terhadap pembinaan olahraga jauh lebih holistik dibandingkan banyak pemimpin daerah lainnya.
“Dengan dukungan anggaran yang memadai, desain kompetisi lokal yang terstruktur sesuai kategori usia, serta leadership seorang bupati yang memahami seluk-beluk sepak bola, maka Malaka pantas disebut sebagai role model pembinaan sepak bola profesional di Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Frans Sales menekankan pentingnya menjaga ruang tumbuh bagi potensi lokal. Ia mengimbau agar praktik naturalisasi pemain harus dihindari dan ditinggalkan sepenuhnya demi memberi kesempatan maksimal bagi bibit-bibit muda asli NTT untuk berkembang.
“Jika kita ingin memiliki pemain-pemain berkualitas yang bisa membela Merah Putih di kanca internasional, maka fondasinya harus dibangun dari akar rumput. Naturalisasi justru menutup peluang anak-anak lokal untuk bertumbuh. Kita perlu percaya pada potensi sendiri,” tegasnya.
Di akhir wawancaranya, Dr. Frans Sales berharap contoh baik yang ditunjukkan Kabupaten Malaka dapat ditiru oleh kabupaten/kota lain di NTT maupun seluruh Indonesia.
“Kita punya tanah subur untuk menghasilkan talenta-talenta hebat. Tinggal bagaimana kita merawatnya dengan serius, konsisten, dan berorientasi jangka panjang. Malaka sudah membuka jalan. Semoga daerah lain segera menyusul,” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












