Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Maaf, Bukan Partai Keluarga

Oleh: Ronaldus Virgo

Ada kecendrung yang berbahaya dari pemimpin partai yang semakin suka melingkari kekuasaannya dengan para kerabatnya seraya sedikit sekali menaruh percaya terhadap kader partainya. Sebuah ironi yang ganjil sekali. Partai membanggun dinastinya masing-masing. Membenarkan pendapat bawah semakin lama kekuasaan, semakin kencang godaan untuk melanggengkan pengaruh.

Sebagaimana ketampanan atau kecantikan, sering kita lupa bawah kekayaan, kepintaran atau jabatan menyimpan di dalam dirinya daya paksa tersembunyi. Data yang kerap digunakan untuk meraih persetujuan orang lain, memenangkan kepentingan-kepentingan tertentu, bahakan jika perlu menaklukan orang lain, tanpa harus terkesan sebagai benar-benar penaklukan yang Kasar. Kerupawan, kekayaan, kepintaran dan jabatan pada dirinya adalah juga kekuasaan.

Itulah mengapa para kelebihan-kelebihan itu perlu untuk selalu dingatkan supaya pandai-pandai menahan diri agar tidak mabuk kekuasaan lantaran selalu terhadap menjajal-jajal keampuhan pengaruhnya hingga kebatas-batas ekstrim.

Kita, orang-orang kebanyakan, warga negara biasa atau orang-orang yang datang dari kelas bawah, sering punya penyakit minder untuk selalu menggangap bawah pemimpin partai kita itu adalah orang-orang yang telah lama memperjuangkan nasib kita. Sehingga membuat kita sudi memosisikan mereka sebagai orang-orang besar yang tidak bisa dikritik. Menjadi Raja yang tidak bisa dilawan. Padahal kenyataan yang sebenarnya kita yang telah memberikan mereka mulai begitu tinggi selama ini. Kita yang telah menghadiahkan nasib kekuasaan itu kepada mereka.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung