Dalam kesempatan itu, HMS juga menyampaikan apresiasi kepada para wartawan yang belakangan ini aktif mempublikasikan rumah-rumah tidak layak huni di Kabupaten Malaka.
“Terima kasih karena di pemerintahan SBS–HMS, akhirnya para wartawan publikasikan dan kita turun bantu,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan satu hal: kritik dan sorotan publik tidak selalu harus dilihat sebagai serangan. Ia bisa menjadi jembatan kepedulian. Media, pemerintah, dan masyarakat dapat berdiri di sisi yang sama, membantu yang lemah.
Di bawah kepemimpinan Bupati Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Henri Melki Simu, isu rumah tidak layak huni menjadi perhatian yang semakin nyata di lapangan. Kunjungan ke Biudukfoho adalah satu potret kecil dari upaya tersebut.
Bagi Yosefina, rumah baru nanti mungkin berarti atap seng yang tidak bocor. Dinding yang kokoh. Lantai semen yang kering saat hujan.
Namun lebih dari itu, rumah baru berarti pengakuan: bahwa ia tidak sendiri.
Bahwa di usia senja, masih ada yang datang mengetuk pintunya. Bahwa pemerintah melihatnya bukan sebagai angka statistik, melainkan sebagai seorang ibu yang layak hidup dengan bermartabat.
Gotong royong yang direncanakan minggu depan bukan hanya kerja fisik membangun rumah. Ia adalah simbol bahwa nilai kebersamaan masih hidup di Malaka. Bahwa camat, kepala desa, dan wakil bupati bisa berdiri sejajar mengangkat kayu, mencampur semen, dan membangun harapan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












