Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dusan V. Kaesnube: Empati Lebih Dalam dari Simpati, Kunci Menjalin Kehidupan Sosial yang Harmonis

Reporter : RedaksiEditor: Yan Klau
Dusan V. Kaesnube: Empati Lebih Dalam dari Simpati, Kunci Menjalin Kehidupan Sosial yang Harmonis/ istimewa

TIMORMEDIA.COM – Penyuluh Agama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belu, Dusan V. Kaesnube, S.Fil, menjadi narasumber dalam program dialog interaktif di studio RRI Atambua dengan mengangkat tema penting tentang empati dan simpati dalam kehidupan sosial.

Dalam paparannya, Dusan menjelaskan bahwa simpati merupakan perasaan yang bersifat pasif dan individualistis, sementara empati adalah perasaan yang lebih mendalam, di mana seseorang mampu benar-benar ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

“Ketika seseorang bisa berempati, ia sejatinya telah menaburkan kebaikan dalam kehidupan bersama,” ujar Dusan di hadapan para pendengar RRI.

Baca Juga :  Pemprov NTT Siapkan Rp108 Miliar, Gaji ke‑13 ASN dan PPPK Mulai Dibayar Pekan Depan

Empati dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dusan menekankan bahwa empati bisa diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Misalnya, dengan ikut hadir dalam suka dan duka yang dialami orang lain, atau memberi perhatian saat sesama menghadapi masalah.

Dalam dunia pendidikan, empati penting ditanamkan kepada anak-anak didik. Guru dan orang dewasa diharapkan terlibat aktif dalam membentuk karakter anak menjadi pribadi yang santun, sesuai nilai-nilai budaya dan adat istiadat setempat.

Baca Juga :  Pemprov NTT Siapkan Rp108 Miliar, Gaji ke‑13 ASN dan PPPK Mulai Dibayar Pekan Depan

Namun, menurutnya, saat ini banyak generasi muda yang mulai kehilangan nilai empati dan simpati. “Budaya santun makin luntur karena anak-anak lebih sering bersikap cuek dan tenggelam dalam dunia media sosial,” jelas Dusan.

Tantangan Era Digital: Kurangnya Empati di Kalangan Remaja

Fenomena ini membuat banyak remaja kesulitan berinteraksi di dunia nyata. Mereka lebih asyik dengan “dua dunia sendiri” dan kerap mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar.

Dusan mengajak para orang tua, guru, dan tokoh masyarakat untuk bersinergi memberikan fungsi kontrol sosial agar anak-anak tidak salah jalan dan tetap memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial mereka.

Baca Juga :  Pemprov NTT Siapkan Rp108 Miliar, Gaji ke‑13 ASN dan PPPK Mulai Dibayar Pekan Depan

Peran Kemenag dan Ajakan Menebar Kebaikan

Dalam rangka memperkuat nilai empati di tengah masyarakat, Kementerian Agama RI melalui para penyuluh agama terus melakukan pembinaan kepada kelompok – kelompok binaan.

Melalui pendekatan kreatif dan inovatif, para penyuluh berupaya mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik.

Sebagai penutup, Dusan mengajak seluruh pendengar RRI Atambua untuk memulai kebaikan dari hal sederhana.

“Mari kita tebarkan kebaikan lewat senyuman. Senyum adalah pintu awal menabur kasih kepada sesama,” tutupnya.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung