“Mereka lebih memilih menanam komoditas lain seperti kacang, sayur, cabai, dan tomat. Menanam jagung pada MT II berisiko karena tingginya kadar air, serta ancaman banjir kiriman dari wilayah Timor Tengah Selatan (TTU), sebagian dari TTS, dan sebagian lagi dari Belu,” jelasnya.
Musim tanam jagung yang optimal di Desa Rabasa adalah pada bulan Juli hingga awal September, yang dikenal sebagai musim ‘ahuklean’ atau MT III. Pada periode ini, intensitas hujan sudah tidak terlalu tinggi, genangan air berkurang, dan kondisi tanah menjadi subur serta cocok untuk jagung. Panen diperkirakan akan berlangsung pada bulan November atau Desember dengan hasil yang memuaskan, memungkinkan masyarakat untuk menjual hasil panen guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tingkat produktivitas jagung pada MT III cukup baik, meskipun data riil mengenai berapa ton jagung yang dihasilkan setiap kepala keluarga belum dapat dipastikan karena sebagian besar petani langsung menjual hasil panen mereka. Harga jagung cenderung fluktuatif, berkisar Rp 3.000-5.000 per kilogram saat panen raya, dan bisa mencapai Rp 7.000-10.000 per kilogram di luar musim panen.
Marianus menambahkan bahwa pada tahun 2024, traktor memang sempat beroperasi di Desa Rabasa, namun pengolahan lahan belum menyeluruh. Dari total 346 hektar yang disiapkan, baru 10 hektar yang diolah oleh pemerintah kabupaten.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












