TIMORMEDIA.COM – Penyuluh Agama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belu, Dusan V. Kaesnube, S.Fil, menjadi narasumber dalam program dialog interaktif di studio RRI Atambua dengan mengangkat tema penting tentang empati dan simpati dalam kehidupan sosial.
Dalam paparannya, Dusan menjelaskan bahwa simpati merupakan perasaan yang bersifat pasif dan individualistis, sementara empati adalah perasaan yang lebih mendalam, di mana seseorang mampu benar-benar ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
“Ketika seseorang bisa berempati, ia sejatinya telah menaburkan kebaikan dalam kehidupan bersama,” ujar Dusan di hadapan para pendengar RRI.
Empati dalam Kehidupan Sehari-Hari
Dusan menekankan bahwa empati bisa diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Misalnya, dengan ikut hadir dalam suka dan duka yang dialami orang lain, atau memberi perhatian saat sesama menghadapi masalah.
Dalam dunia pendidikan, empati penting ditanamkan kepada anak-anak didik. Guru dan orang dewasa diharapkan terlibat aktif dalam membentuk karakter anak menjadi pribadi yang santun, sesuai nilai-nilai budaya dan adat istiadat setempat.
Namun, menurutnya, saat ini banyak generasi muda yang mulai kehilangan nilai empati dan simpati. “Budaya santun makin luntur karena anak-anak lebih sering bersikap cuek dan tenggelam dalam dunia media sosial,” jelas Dusan.
Tantangan Era Digital: Kurangnya Empati di Kalangan Remaja
Fenomena ini membuat banyak remaja kesulitan berinteraksi di dunia nyata. Mereka lebih asyik dengan “dua dunia sendiri” dan kerap mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar.
Dusan mengajak para orang tua, guru, dan tokoh masyarakat untuk bersinergi memberikan fungsi kontrol sosial agar anak-anak tidak salah jalan dan tetap memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial mereka.
Peran Kemenag dan Ajakan Menebar Kebaikan
Dalam rangka memperkuat nilai empati di tengah masyarakat, Kementerian Agama RI melalui para penyuluh agama terus melakukan pembinaan kepada kelompok – kelompok binaan.
Melalui pendekatan kreatif dan inovatif, para penyuluh berupaya mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik.
Sebagai penutup, Dusan mengajak seluruh pendengar RRI Atambua untuk memulai kebaikan dari hal sederhana.
“Mari kita tebarkan kebaikan lewat senyuman. Senyum adalah pintu awal menabur kasih kepada sesama,” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












