Gilda menyampaikan, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari, terpaksa setiap hari ia harus mengikuti buruh harian di kebun milik tetangga dengan biaya Rp 35.000.
“Kalau ada orang yang datang menghubungi saya untuk ikut harian di kebun atau sawah terpaksa saya harus ikut. Hal ini terpaksa saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga setiap hari,” ujarnya menambahkan.
Gilda lda menyampaikan, semenjak suaminya meninggal dunia terpaksa ia merawat anak sulungnya yang diduga menderita gangguan jiwa dengan penuh kasih sayang.
Bahkan, ia rela bekerja serabutan tanpa harus mengenal lelah untuk menghidupi kebutuhan hidup anak-anaknya setiap hari.
“Pak saya terpaksa harus bekerja dari pagi sampai sore di kebun atau sawah milik orang di kampung untuk bisa mendapatkan uang dan membeli beras untuk memenuhi kebutuhan hidup kami setiap hari,” ungkapnya.
Ia mengisahkan, anak sulungnya itu, saat awal diduga menderita gangguan jiwa pernah ancam-ancam orang sembarang hingga memukul anak-anak kecil.
“Dulu dia pernah ancam -ancam orang dan suka memukul anak-anak kecil. Namun, sekarang kalau orang ganggu dia, dia hanya menangis,” kisah Gilda sembari meneteskan air mata.
Gilda berharap, kepada pemerintah Manggarai Timur untuk bisa membantu mengobati anaknya yang mengalami gangguan jiwa.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












