Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Anak Didik SN Memilih Untuk Membelot

Dalam pandangannya, Primus tidak segan-segan mengkritik program SAKTI yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini, yang ia anggap tidak berjalan sesuai harapan.

Menurutnya, program tersebut telah berubah dari yang seharusnya efektif menjadi tidak bermanfaat, bahkan “SAKTI jadi SAKIT”.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

“Saya mau kritik progam yang namanya SAKTI yang sekarang jadi SAKIT. Jadi SAKTI jadi SAKIT begini bapa mama semua… Progam swasembada pangan itu tidak beda jauh dengan bapa Stef punya program RPM. Swasembada bahasa sederhananya “berkelimpahan pangan” yang artinya makanan berkelimpahan, dan masyarakat tidak merasa kelaparan. Bagaimana mereka buat brand berasa nona malaka, tapi isinya beras dari Sulawesi atau bulog, nanti hukum yang bicara. Karena itu pembohongan publik,” tegasnya.

Primus membandingkan program swasembada pangan yang ditawarkan oleh pemerintah saat ini dengan program RPM milik SBS. Ia berpendapat bahwa swasembada pangan seharusnya mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat dan bukan sekadar jargon politik.

Kritikan ini disampaikan dengan nada kekecewaan terhadap bagaimana program-program yang dicanangkan pemerintahan sekarang belum memenuhi kebutuhan dagang masyarakat.

“Waktu musim kelaparan beras nona malaka dimana? Seharusnya saat musim kelaparan beras nona Malaka menjawab kebutuhan masyarakat. Saya bicara ini karena saya sering turu ke masyarakat dan melihat masyarakat masih tumbuk sagu seperti zaman primitif tahun 70an. Dan saat itu tidak ada beras nona malaka itu menjawab kelaparan itu,” ungkap Primus.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung