Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Refleksi Iman Melalui Ziarah Jalan Salib Hidup: Menapak Jejak Pengorbanan Yesus dalam Kehidupan Nyata

Reporter : Yan KlauEditor: Redaksi

TimorMedia.Com – Ziarah Jalan Salib yang diselenggarakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Antonius Padua Nela, Lingkungan Santo Fransiskus Asisi Raiikun, mengajak umat Katolik untuk merenungkan dan merefleksikan iman melalui kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus.

Kegiatan ini menjadi ruang rohani untuk menyadari kembali makna pengorbanan Yesus dalam kehidupan sehari-hari.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Jalan Salib merupakan ibadah yang mengenang perjalanan Yesus sejak dijatuhi hukuman mati, memikul salib, hingga wafat dan dimakamkan di Bukit Golgota.

Perjalanan penuh penderitaan ini menjadi simbol cinta kasih Allah yang begitu besar kepada manusia. Dengan wafat-Nya di kayu salib, Yesus menebus dosa umat manusia agar layak masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Baca Juga :  Di Tengah Peringatan HUT ke-81 RI, Stand Disperindagkop Malaka Sediakan Minyak Tanah Murah Jawab Keluhan Warga

Kegiatan Ziarah Jalan Salib hidup ini berlangsung di Paroki Santo Antonius Padua Nela, Jalan Nela Raya, Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, pada Jumat 18 April 2025.

Tablo Jalan Salib diperankan oleh OMK Lingkungan Santo Fransiskus Asisi Raiikun, dipimpin oleh Frater Yon Siga SVD (Top Paroki Santo Antonius Padua Nela) dan Frater Yogis Adun SVD (Top STM Nenuk), dan dihadiri oleh sekitar 800 umat.

Refleksi iman melalui Jalan Salib Hidup mengajak umat untuk menyelami penderitaan Yesus sebagai cermin dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan

Baca Juga :  Hadiri Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Malaka Cek Kesehatan, Tinjau Stand, dan Sapa Warga

Seperti Yesus yang memikul salib dengan setia, demikian pula umat Katolik dipanggil untuk setia memikul salib hidupnya: menghadapi cobaan, penderitaan, hinaan, dan pergumulan iman dengan pengharapan bahwa Allah senantiasa menyertai.

Menjadi pengikut Kristus berarti bersedia memikul salib setiap hari. Hidup sebagai Katolik bukanlah jalan yang selalu mudah. Di tengah godaan dunia, kita diajak untuk tetap setia pada ajaran Kristus, meneladani kasih-Nya yang mengampuni dan merangkul, bahkan di tengah penderitaan sekalipun.

Salib yang kita pikul mungkin membuat kita tampak rendah di mata dunia, namun sesungguhnya kita mulia di hadapan Allah. Melalui refleksi ini, kita diingatkan bahwa penderitaan dapat menjadi jalan menuju kedewasaan rohani, sumber kekuatan, dan sarana pertumbuhan iman.

Baca Juga :  SLB Negeri Loofoun Bone Tampil Perdana di HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Weliman

Jalan Salib bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, tetapi adalah undangan untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata: menerima penderitaan, menyangkal diri, menanggalkan ego, dan tetap setia berjalan bersama Yesus.

Dalam setiap stasi, kita diajak merenungkan bagaimana kasih dan pengorbanan Kristus menjadi inspirasi dan kekuatan dalam hidup kita sehari-hari.

Dengan menyadari kasih Allah yang begitu besar, umat Katolik didorong untuk lebih dekat kepada Tuhan, memperdalam iman, dan hidup dalam pengharapan akan kebangkitan. Jalan Salib hidup menjadi sarana untuk bertumbuh secara rohani dan menjadi saksi nyata kasih Allah di tengah dunia.*

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung